Tarung Bebas Selempang Pendekar Jember: Kejarlah Daku Kau Ku-papas..!
Sebuah tendangan balik memutar menimbulkan kesiur angin yang kuat. Budi Hartono, si pemilik tendangan berharap serangannya kali ini bisa mendera tubuh Habibullah. Namun harapannya sia-sia. Habibullah yang melihat gerakan putaran badan Budi sudah tahu bahwa lawannya akan melakukan tendangan putar balik. Oleh karena itulah hanya dengan mencondongkan badannya ke belakang, maka tumit lawan itu hanya berkelebat cepat sejengkal di depan dadanya.
Tahu tendangannya gagal, maka Budi mengubah strategi serangan dengan melakukan tendangan sentak lurus ke depan. Justru serangan itu yang ditunggu oleh Habibullah. Begitu kaki kanan Budi melesat, secepat itu pula Habib justru memipihkan tubuhnya dengan cara maju serong depan merapat ke tubuh lawan. Ketika tendangan lawan meleset, justru tangan Habib yang menangkap kaki lawan. Sebuah sentakan halus ke atas dengan meminjam tenaga lontaran kaki lawan menjadikan teknik bantingan Habib sempurna. Budi jatuh di matras.
Jatuh bukan berarti kalah. Bangkit lagi untuk melanjutkan pertarungan. Itulah semangat para petarung di ajang Tarung Bebas Selempang Jember III pada 2 - 6 Agustus 2009 silam. Tarung bebas itu mirip benar dengan Pride ataupun K-1 di Jepang. Bedanya adalah sistem penilaian dan pertarungan menggunakan cara pencak silat. Cecaran serangan beruntun maksimal empat kali. Bila ingin menyerang lagi harus memberi jeda sesaat. Satu pertarungan tiga babak.
Karena mengadopsi pertarungan bebas luar negeri itu, maka hal-hal yang lain nyaris sama. Petarung tidak menggunakan body protector ataupun head protector. Petarung hanya mengenakan sarung tinju kecil, genital protector, dan gum seal (pelindung gigi) di mulut. Sasaran serangan bebas. Mulai dari ujung kaki sampai ujung rambut. Yang tidak boleh diserang adalah kemaluan dan belakang kepala. Teknik yang dilarang hanya kuncian. Lainnya? Bebas sebebas-bebasnya.
Lantaran kata bebas itu begitu kuat menggema, maka petarung yang terjun di arena ini memang mereka yang memiliki nyali singa. Teknik tinggi saja tidak cukup. Sementara nyali singa saja sama saja dengan menjadi pecundang di babak-babak awal.
Budi dan Habibullah adalah finalis di kelas usia 35 tahun ke bawah. Dalam tarung bebas a la Jember itu, petarung hanya dibagi dalam dua kelas berdasarkan umur. Pertama adalah umur 25 - 35 tahun, dan kedua adalah usia 35 tahun ke atas. Berat badan tidak dibatasi. Semua petarung wajib mengenakan pakaian silat hitam. Para petarung dilarang membawa-bawa nama perguruan. Jadi mereka bertanding harus atas nama diri sendiri ataupun klub yang mereka namai sendiri.
Bebas kan? Ya, memang benar-benar bebas. Termasuk peserta juga bebas dari berbagai aliran beladiri mana pun. Yang harus mereka patuhi cuma dua: sportif dan taat para peraturan pertandingan pencak silat.
== Semi profesional ==
Pertarungan Habibullah vs Budi Hartono digelar di tengah Alun-alun Kota Jember. Para petarung berlaga di atas ring tinju. Ditonton ramai-ramai oleh seluruh warga kota pecinta beladiri. Tanpa tiket. Silakan nonton rame-rame. Bersorak sekencang mungkin. Pokoknya rame banget, seru banget, rakyat banget, oke banget. Khas Jember.
Habibullah akhirnya menang telak dalam pertarungan keras selama tiga ronde. Ia menjatuhkan Budi tiga kali. Selain itu cecaran pukulan dan tendangan lebih banyak memperoleh nilai daripada serangan Budi.
Apa kata Habibullah mengenai pertarungan itu?
"Wah, seru banget. Itu baru pertama kali saya ikuti. Sebelumnya sudah ada dua kali tarung bebas di Jember pada tahun 2007 dan 2008. Tetapi saya tidak ikut, bahkan tidak menonton. Kenapa saya kini ikut terjun, alasannya sederhana. Di Jawa Timur saya tidak memiliki lawan tanding di kancah pencak silat. Berat badan saya yang 85 kg menjadikan saya pesilat yang langka. Oleh karena itu ketika ada kesempatan bertanding tanpa melihat berat badan, saya langsung ikut," tutur Habibullah.
Habib, demikian panggilan akrab mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Dokter Sutomo Surabaya ini, mengaku dirinya menjadi petarung yang paling beruntung di arena tarung bebas Jember itu.
"Wajah saya masih yang paling mulus. Sementara para finalis lainnya wajahnya banyak yang lebam karena terkena pukulan maupun tendangan lawan. Sebenarnya, wajah saya juga beberapa kali terkena pukulan lawan. Tapi berkat teknik serang-hindar yang biasa menjadi menu latihan sehari-hari, maka secara reflek saya pasti mampu menghindari serangan ke arah kepala itu," katanya.
Terjun di arena tarung bebas di Jember bagi Habib semacam ujicoba sebelum ia terjun di arena Pekan Olahraga Mahasiswa di Malang. Di Jember, setiap petarung harus menandatangani surat pernyataan sanggup menerima risiko paling fatal bila terjun di arena itu.
"Ngeri juga yang kedengarannya? Tapi sebenarnya itu wajar-wajar saja. Bila setiap petarung telah siap berlaga, semuanya pasti telah memiliki cara untuk mengantisipasi agar dirinya jangan sampai cedera," ujar Habib.
Mengaku masih menyandang tingkat Strip Hijau di perguruan Perisai Diri, Habib masih merasa banyak kekurangan dalam hal teknik. Meski demikian, ia ternyata telah membuktikan teknik yang ia latih bisa ia gunakan untuk meraih juara di arena bergengsi: Tarung Bebas Selempang Pendekar Jember.
Gejlig sebagai senjata andalan, sering menerpa lawan. Tendangan langsung maupun papasan yang jitu, menjadikan Habib sempat meng-KO lawannya pada pertarungan perdana. Bila menemui lawan yang gesit dan beringas, Habib telah menyiapkan papasan gejlignya.
Di atas ring ia ditemani Mas Bambang, pelatih PD di Probolinggo. Sementara selepas pertarungan, ia beristirahat di tempat kos Muchlis, mahasiswa Universitas Negeri Jember yang juga berlatih PD. Makan pun di warung. Itulah sisi lain semangat juang seorang petarung.
Dalam dua kali pergelaran tarung bebas di Jember, belum ada satu pun pesilat PD yang mencoba unjuk gigi. Baru pada tahun 2009 ini Habib menginjakkan kaki di atas ring. Itu pun ia hanya sendirian. Dan gelar juara pun ia sandang.
Mau tahu berapa hadiah yang ia terima?
Pada babak penyisihan hadiah yang diperebutkan Rp 400.000. Petarung yang menang mendapat Rp 250.000 sementara yang kalah kebagian Rp 150.000. Sementara pada babak final uang hadiah meningkat menjadi Rp 2 juta. Sang juara mengantongi Rp 1.250.000, sementara runner up meraup Rp 750.000.
"Jangan melihat hadiah uangnya. Yang penting prestisnya. Para pesilat yang menonton final di kelas saya memahami bahwa lawan saya bukan seorang pesilat. Dari kuda-kudanya dan teknik ia bertarung, semua bisa terlihat. Oleh karena itu, ketika saya dinyatakan sebagai pemenang; banyak pesilat yang menyalami saya," katanya.
Dampak positif lainnya adalah, anggota PD, terutama di Jawa Timur, akhirnya seperti tergugah. Mereka ingin ikut berlaga pada tahun 2010 nanti. Habibullah telah menjadi pemicu semangat para saudaranya yang lain.
SUMBER : PERISAI DIRI.COM
Minggu, Agustus 23, 2009
Kamis, April 02, 2009
Pilot dan Angkatan Laut...
Pada Hari Kamis yang lau 2 April 2009 saya (wibowo) dan Mas Miskad Pribadi kontak melalui telpon dan Sdr. Miskad mengatakan punya anggota PD warga Italy yang sekarang bekerja sebagai pilot. Di Medan juga ada anggota silat PD yang bekerja sebagai angkatan laut dari Amrik. Demikian sekilas infor.
Selasa, Februari 24, 2009
Raih 2 Emas di POMDA 2009
Pekanbaru, dalam rangka Pekan Olahraga Mahasiswa Daerah (Pomda) Riau cabang pencak silat, Perisai diri Pekanbaru menggondol 2 emas. Emas pertama dipersembahkan oleh Indrayani (Strip hijau Biru) dan emas kedua dipersembahkan M. Nur (Strip Hijau). Kedua pesilat ini sangat antusias dalam bertanding.
Gedung purna MTQ dijalan Soedirman Pekanbaru Selasa, 24 Februari 2009 sungguh sangat ramai didatangi para mahasiswa karena disini diadakan kegiatan POMDA yang mempertandingkan 10 cabang olahraga. Salah satu cabang yang banyak dihadiri para mahasiswa adalah Silat. Diatas matras yang berukuran 10 X 10 meter inilah mahasiswa seluruh Riau bertanding. Saling pukul dan tendang bahkan bantingan dilakukan dengan semangat tinggi untuk meraih juara. Meskipun salah satu pesilat sampai kakinya patah itu bukan masalah, karena kecelakaan dapat terjadi berbagai cara, dimana saja, kapan saja (maaf penulis tidak dapat informasi siapa pesilat itu dan dari kontingen serta perguruan apa) Sebagai sesama pesilat kita mendoakan semoga cepat sembuh, amin. Dan hebatnya panitia pelaksana masih membolehkan setiap kontingen memakai pakaian perguruan dalam bertanding. Tentunya ini tidak disia-siakan oleh PD Pekanbaru. Setiap tanding anggota PD meskipun mewakili Universitasnya mereka tetap memakai pakaian perguruannya, hal ini juga dilakukan oleh pesilat-pesilat yang lain.
Dalam pertandingan yang dipimpin seorang wasit dan dibantu 3 juri ini dapat dilaksanakan dengan baik. Dalam pertandingan Final Indrayani yang dua kali dapat dijatuhkan lawanya justru semakain bersemangat dalam bertanding. Hingga akhirnya Indrayani memperoleh apa yang dinginkan JUARA I.
Pada final berikutnya M.Nur (PD Pekanbaru) berhadapan dengan Aris pada kelas A putra, pertandingan ini cukup seru mengingat Aris adalah pesilat yang cukup berpengalaman dan dilayani oleh M.Nur dengan semangat mbak serigala lapar. Dentuman tendangan M.Nur yang beberapa kali dapat tepuk tangan penonton hingga ahkhirnya mengantarkannya jadi Juara I.Sedangkan salah satu pesilat putri PD Iin Kusmiati yang turun di kelas D menempati juara II (Perak)
Ketika istirahat diantara pertandingan seluruh anggota PD Riau yang ikut pertandingan POMDA kemudian menyempatkan diri berkumpul yang dipimpin Wibowo (Strip Merah Kuning) diisi dengan masukan diantaranya menjaga kekeluargaan, membangkitkan semangat tanding, taktik, saling dukung, sportifitas, etika, memegang teguh kebenaran, hingga sampai menghargai lawan dalam pertandingan.
Gedung purna MTQ dijalan Soedirman Pekanbaru Selasa, 24 Februari 2009 sungguh sangat ramai didatangi para mahasiswa karena disini diadakan kegiatan POMDA yang mempertandingkan 10 cabang olahraga. Salah satu cabang yang banyak dihadiri para mahasiswa adalah Silat. Diatas matras yang berukuran 10 X 10 meter inilah mahasiswa seluruh Riau bertanding. Saling pukul dan tendang bahkan bantingan dilakukan dengan semangat tinggi untuk meraih juara. Meskipun salah satu pesilat sampai kakinya patah itu bukan masalah, karena kecelakaan dapat terjadi berbagai cara, dimana saja, kapan saja (maaf penulis tidak dapat informasi siapa pesilat itu dan dari kontingen serta perguruan apa) Sebagai sesama pesilat kita mendoakan semoga cepat sembuh, amin. Dan hebatnya panitia pelaksana masih membolehkan setiap kontingen memakai pakaian perguruan dalam bertanding. Tentunya ini tidak disia-siakan oleh PD Pekanbaru. Setiap tanding anggota PD meskipun mewakili Universitasnya mereka tetap memakai pakaian perguruannya, hal ini juga dilakukan oleh pesilat-pesilat yang lain.
Dalam pertandingan yang dipimpin seorang wasit dan dibantu 3 juri ini dapat dilaksanakan dengan baik. Dalam pertandingan Final Indrayani yang dua kali dapat dijatuhkan lawanya justru semakain bersemangat dalam bertanding. Hingga akhirnya Indrayani memperoleh apa yang dinginkan JUARA I.
Pada final berikutnya M.Nur (PD Pekanbaru) berhadapan dengan Aris pada kelas A putra, pertandingan ini cukup seru mengingat Aris adalah pesilat yang cukup berpengalaman dan dilayani oleh M.Nur dengan semangat mbak serigala lapar. Dentuman tendangan M.Nur yang beberapa kali dapat tepuk tangan penonton hingga ahkhirnya mengantarkannya jadi Juara I.Sedangkan salah satu pesilat putri PD Iin Kusmiati yang turun di kelas D menempati juara II (Perak)
Ketika istirahat diantara pertandingan seluruh anggota PD Riau yang ikut pertandingan POMDA kemudian menyempatkan diri berkumpul yang dipimpin Wibowo (Strip Merah Kuning) diisi dengan masukan diantaranya menjaga kekeluargaan, membangkitkan semangat tanding, taktik, saling dukung, sportifitas, etika, memegang teguh kebenaran, hingga sampai menghargai lawan dalam pertandingan.
Minggu, Desember 28, 2008
UJIAN KENAIKAN TINGKAT BABUSALAM DAN GOR
Minggu, Desember 14, 2008
Pendekar Tiongkok
.jpg)
Ini adalah cerita yang ada kaitanya dengan Silat PD, surat ini dikirim oleh Arifin Purwakananta
Moh. Arifin Purwakananta
Subject: [silatindonesia] Pengaruh kungfu terhadap silat
To: silatindonesia@ yahoogroups. com
Date: Wednesday, January 28, 2009, 10:00 PM
Berikut saya posting dari koran Pendekar Tiongkok di Tanah Jawa
Sebarkan Sikap Rendah Hati kepada Semua Orang Pada masa lalu, pendekar-pendekar asal Tiongkok pernah berkiprah di Tanah Jawa. Bagaimana sepak terjang mereka? Berikut laporannya.
BONG bundar di puncak bukit Menden, Parakan, Temanggung, itu terlihat renta. Beberapa bagiannya rusak dan berlumut. Setumpuk batu-bata tertata rapi di depan epitaf. Bagi awam, makam yang menghadap ke Gunung Sindoro-Sumbing itu tak punya nilai apa-apa. Tapi warga Tionghoa Parakan amat memuliakannya.
Itulah makam Louw Djing Tie, tokoh yang dipercaya sebagai pendekar yang pernah malang-melintang dalam rimba persilatan di Tanah Jawa. Konon, semasa hidup dia disegani, baik oleh kawan maupun lawan-lawannya. Meski memiliki kemampuan bela diri kunthauw (kungfu) yang tinggi, dia dikenal sebagai sosok yang rendah hati. Djing Tie disebut-sebut sebagai wu lin meng zhu, atau yang teragung di rimba persilatan.
Sejauh ini tidak ada catatan sahih mengenai kehidupan Louw Djing Tie.
Kisah-kisah mengenai dirinya lebih banyak bersumber dari cerita tutur. Terkadang kisah itu dibumbui mitos. Pemerhati budaya Pecinan Parakan, Sutrisno Murtiyoso memaparkan, Louw Djing Tie seorang singkek kelahiran Haiting pada 1855. Dia terlahir dengan perangai keras dan pemberani. Hampir setiap hari ia terlibat perkelahian dengan anak-anak sebayanya. Sebuah peristiwa kecil membawanya mengenal lebih jauh ilmu bela diri kungfu.
Alkisah, Djing Tie kecil yang geram dengan ulah seorang bikhu pengemis melemparnya dengan batu. Bikhu yang kerap menggunakan kekerasan saat meminta-minta itu marah dan mengejarnya. Djing Tie lari dan terdesak ke sebuah kedai di jalan buntu. Untung dia diselamatkan seorang juru masak tua dari kedai itu.
”Sejak peristiwa itu, Louw Djing Tie jadi lebih dewasa. Dia mulai berlatih kungfu di salah satu perguruan di desanya. Tak merasa puas, Djing Tie melanjutkan belajar ke kuil shaolin, kepada bikhu Biauw Tjin dan suhu Kang Too Seng,” kisah Sutrisno.
Suatu ketika, pemerintah setempat mengadakan seleksi guru kungfu untuk menjadi pelatih tentara. Louw Djing Tie bersama adik seperguruannya, Lie Wan turut serta. Lie Wan mendapat giliran menantang seorang guru kungfu dari Shan Dong yang telah mengalahkan empat penantang. Pertarungan berjalan seru dan seimbang. Namun pada sebuah kesempatan, Lie Wan terancam. Tak ingin adik seperguruannya celaka, Djing Tie spontan naik ke panggung dan melancarkan serangan telak ke bagian terlarang lawan. Akibatnya fatal, guru kungfu dari Shan Dong itu cidera parah, sebelum akhirnya meninggal.
Sadar telah melakukan kesalahan besar, Djing Tie disertai Lie Wan melarikan diri. Tak tanggung-tanggung, mereka hijrah ke Singapura. Hanya beberapa bulan, Djing Tie memutuskan berlayar ke Jawa. Mula-mula dia tinggal dan berdagang di Batavia, namun karena tak beroleh keuntungan, Djing Tie pindah ke Semarang. ”Sepanjang hidupnya, Louw Djing Tie menyesali perbuatannya yang tak kesatria itu,” ujar Sutrisno.
Di Semarang, Djing Tie berdagang sambil tetap berlatih kungfu. Beberapa warga yang melihat dia berlatih terpukau sebelum akhirnya berguru kepadanya. Perlahan-lahan kepiawaiannya berkungfu menjadi buah bibir masyarakat. Be Khang Pien, pendekar yang bekerja sebagai keamanan di kediaman Kapten China Semarang Be Ing Tjoe di Kebondalem, pun merasa penasaran.
Be Khang Pien ingin menjajal kemampuan ilmu bela diri Djing Tie. Dia mengajukan tantangan. Mula-mula Djing Tie enggan melayani. Namun karena terus dipaksa, dia terpaksa menerima tantangan itu. Dengan disaksikan sejumlah orang, mereka bertarung. Setelah sekian lama, Djing Tie memiliki kesempatan menghantam lawan. Namun, pendekar yang rendah hati itu enggan melakukannya. Dari sana Be Khang Pien tahu Djing Tie bukan orang sembarangan. Tak hanya hebat, dia juga rendah hati. Menyadari hal itu, Be Khang Pin kemudian menjalin persahabatan dengan Djing Tie.Pindah ke ParakanSuatu hari seorang kenalan mengajak Djing Tie mengajar kungfu di Ambarawa. Setelah itu dia juga melakukan hal sama di Wonosobo. Saat berada di kota berhawa sejuk itu, Djing Tie beroleh tawaran untuk bertarung dengan harimau di Parakan. Awalnya enggan, namun atas desakan seorang kawan, dia menyanggupi tantangan itu. Terlebih dengan iming-iming bayaran tinggi.
”Tapi acara gila itu tak pernah terlaksana. Sebab aparat keamanan Belanda keburu melarangnya,” kata Sutrisno.
Djing Tie selanjutnya memilih bermukim di Parakan. Dia mengajar ilmu bela diri kepada sebuah keluarga juragan tembakau di kota itu. Warga menyambutnya dengan baik. Namun The Soei, seorang guru kungfu di daerah itu merasa ingin menguji kehebatan Djing tie. Tantangan itu dilayani. Maka waktu yang telah ditentukan, mereka mengadu kehebatan.
Menurut Sutrisno, untuk menghindari jatuhnya korban, mereka mengganti senjata tajam dengan sebatang kuas yang ujungnya dicelup tinta cina. Kedua jagoan itu saling menyerang, tusuk-menusuk secara bergantian. Djing dapat mendesak The Soei. Berkali-kali dia berhasil menorehkan ujung kuasnya ke daerah berbahaya di bagian tubuh The Soei.
Kalau mau, barangkali Tubuh The Soei sudah penuh bercak-bercak tinta. Namun seperti halnya saat bertarung melawan Be Khang Pien, Djing Tie enggan banyak-banyak menusukkan ujung kuasnya. Pertarungan itu dinyatakan seri, namun The soei yang tahu keadaan sebenarnya menjadi sangat hormat pada Djing Tie dan menjadi sahabat baik.
Diusia tuanya dia memiliki banyak murid dan tak pernah bosan menularkan ilmu beladirinya. Salah satu murid terakhir sekaligus kesayangan Djing Tie adalah Hoo Tik Tjay alias Bah Suthur. Dialah yang merawat Djing Tie di usia tua hingga meninggal dunia. (Rukardi-46) SEPENINGGAL Louw Djing Tie, muncul pendekar-pendekar muda kungfu dengan penguasaan ilmu yang cukup tinggi. Mereka kebanyakan para singkek dan pernah menimba ilmu pada perguruan-perguruan kungfu di daratan China, antara lain Lo Ban Teng, Djie Siauw Foe, dan Khong A Djong.
Lo Ban Teng lahir di Cio bee, Hokkian pada 1886. Dia murid Yoe Tjoen Gan yang beraliran siauw lim ho yang pay. Saat remaja, Ban Teng pernah berlayar ke Semarang dan tinggal di Kampung Selan. Namun, lantaran tak punya pekerjaan jelas, dia pulang ke negeri asalnya.
Pada 1927, lelaki dengan bekas luka di dahi itu kembali datang ke Semarang. Terpikat gadis bernama Go Bin Nio, Ban Teng memutuskan tinggal menetap.
Pada 1931 Ban Teng pernah menyelenggarakan tjing pie say atau demo untuk mencari jawara kungfu. Acara itu digelar di tiga kota, yakni Semarang, Solo, dan Yogyakarta.
Di panggung, dia menempelkan poster-poster provokatif bertuliskan, "bwee pa, tju li lay" (kalau mau coba, silakan muncul), "kia sia em tang lay" (kalau takut mati, tidak usah datang), dan "pa sie ka tie tay" (kalau kena serangan maut, urus sendiri kuburan anda).
Namun, perhelatan itu tak beroleh respons dari para pendekar di Tanah Jawa.
Djie Siauw Foe seorang pendekar asal Shan Dong. Dia mendapat tempat terhormat di kalangan pendekar-pendekar dari utara.
Atas undangan sahabatnya Wang Zhi Jiu, Siauw Foe bersama sejumlah pendekar dari utara lainnya datang ke Batavia pada sekitar 1925. Dia kemudian memutuskan diri menetap di Semarang, tepatnya di Kampung Pederesan Kecil. Di tempat itu Siauw Foe mengajarkan ilmu bela diri yang dimilikinya. Pada tahun 1970-an, dia meninggal dunia.
Sedangkan Khong A Djong lahir di Kampung Gabahan Lengkong Buntu, kawasan Pecinan Semarang pada 10 Oktober 1896. Pada usia enam tahun, A Djong dititipkan orang tuanya kepada seorang paman yang tinggal di Kota Nam Hai, Kwang Tung.
Di negeri besar itu, dia belajar kungfu di Siao Liem Sie, perguruan masyhur tempat para pendekar kungfu terbaik Tiongkok menuntut ilmu. Gurunya Siong Mao, murid pendekar legendaris Wong Fei Hung.
Di perguruan yang menelurkan Bruce Lee itu, A Djong mempelajari dua aliran kungfu, yakni siau liem dan nggo mbie paei. Siau liem adalah aliran kungfu dari Tiongkok Selatan yang mengutamakan pertarungan tangan kosong jarak jauh, sedangkan nggo mbie paei berasal dari Tiongkok Utara yang mengedepankan pertarungan tangan kosong jarak pendek.
Konon, A Djong pernah memenangi kejuaraan kungfu gaya bebas di daratan Tiongkok (baligay) tujuh kali berturut-turut. Sebagai hadiah, dia menerima rompi yang terbuat dari kulit macan asli (fu bei sam).
Setelah 27 tahun belajar kungfu di Tiongkok, A Djong dipanggil orang tuanya pulang ke Semarang untuk menikah dengan seorang gadis tetangga dari Kampung Gabahan Lengkong Buntu, Auw Yang Ien Nio.
Punya tanggungan keluarga, A Djong bekerja apa saja. Dia juga memanfaatkan kemampuan bela dirinya untuk melatih dan menggelar pertunjukan kungfu di tempat umum.
Salah satu muridnya adalah anggota keluarga Mayor Gedonggulo. Sebelum sakit dan meninggal pada 22 September 2008, Khong A Djong masih bekerja. Dia membuka praktik penyembuhan patah tulang di rumahnya Jl MT Haryono.
Berebut Pengaruh
Rimba persilatan adalah dunia yang keras. Para pendekar itu acap terlibat perselisihan untuk memperebutkan pengaruh. Selain antarpendekar kungfu, perselisihan juga kerap terjadi dengan pendekar-pendekar silat lokal.
Tak jarang perselisihan diselesaikan melalui pertarungan.
Dalam tradisi persilatan, mereka bertarung di sebuah arena yang telah disiapkan. Siapa yang menang, dialah yang mendapat pengaruh.
Namun seringkali pertarungan terbuka itu terendus aparat hingga urung dilaksanakan.
Di luar perselisihan, dunia persilatan juga diwarnai saling pengaruh ilmu beladiri. Umumnya yang terjadi adalah pengaruh kungfu terhadap silat. Satu contoh paling tipikal mengenai hal itu adalah pengaruh aliran siauw liem sie dalam perguruan silat Perisai Diri.
Alkisah, dalam salah satu periode hidupnya, RM Soebandiman Dirdjoatmodjo— guru besar sekaligus pendiri perguruan silat Perisai Diri—pernah berguru kepada Yap Kie San di Parakan, Temanggung.
Perlu diketahui, Yap Kie San adalah salah seorang cucu murid Louw Djing Tie, dari Hoo Tik Tjay alias Bah Suthur. Tak tanggung-tanggung, proses merguru itu dilakukan selama kurang lebih 14 tahun.
Menurut Lauw Tjing How, salah seorang keturunan Louw Djing Tie, Soebandiman alias Pak Dirdjo termasuk satu dari enam murid yang sanggup menamatkan pelajaran Yap Kie San. (Rukardi-65)
Sabtu, Agustus 30, 2008
Jumat, Agustus 29, 2008
Gallery Tunggal
NI NAmanya Ami
NI NAmaNYA naDIA
Ni NAma NYA MAYA...
DAH Di Ganti YA Foto nya????
NI NAmanya Aliff

NI NAmaNYA SUtrisno
Lain kali diganti fotonya yang Cuakeppp banget

NI NAMA nYA renDi Dian PErdaNA
NI NAMANYA INDRAyani

NI namnya NANDA Hidayat...

NI namanya M.Nur
NI NamaYA NOFRIansyah
Oh YA SebenarNya MAsih BAnyak LAgi Tapi Gak Ad Foto YAng LAgi SendiRian
SeperTI GEnta,CAndRA IDAman,Dll
Entar KAlau Ada FotoNYA DiMAsukan DEh
KEp Your Smile...
Gallery Menyambut BulaN Puasa I

Duhhh pada genit YA........

BAng NAnda CANTIKKKKKKKKKK

WOi TRISNo minta uang YA???
MAf AQ GAk ADA UANG KEcil
LIat Apaan NIH??????
Woiiii LIat APaan Tuhhhhhh......

Wahhh REndi Sok2 Kuat.......
Oi LIft Tangan MU KAn GAk BOleh Inisial Jorok..
Mabak MAya Gi NApaIN NIh???
Huuuuuu Sok2 Imoet.....
BEnar Ato GAk YA?????
Ya YA YA AMI KIta Damai Dech,,,,,
Satu KELuarGA yA?????MuNgKin KEluarga BESAR

HAyuuu Kenak MArah MAs BOWO YA?????
Huhhahaha KAsian DEH LO MASUK !...

Oi Nisa Sikapnya jangan nyante X YA....
Acara HAmPir berakhir YA????
OOOOOO DAh SIap To.....
MAt LEbaran YA seMUAnya...
DUHHH IMoet2 ATo Amit2???HGuahahahah
LAgi SErius NI PAk????
Oi Anak KEtek Naksir Ya Ama SeBelah NYA???
Nofri TErus BErJuanggggggggg........

LO KOk Sama YAng KAyak DIatas??????

LAgi SErang Hindar YA BOs.....
Kamis, Agustus 28, 2008
Gallery SMP N 10 Pekanbaru
Gallery PTR II
Langganan:
Postingan (Atom)






.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)